: Bait Bait Jiwa

Saturday, October 10, 2015

Kisah Nyata : Menabrak Polisi, Dapat Jodoh

Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh.

Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka “motor butut”-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.

Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh… nabrak juga, … polisi lagi.
Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.

Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.

“Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik”.

Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.

Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.

Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.

Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima “setoranku”. Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, “sudah ada gambaran nikah belum?” tanyanya padaku sambil mesem-mesem.

“Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada”. Jawabku sambil cengar-cengir.

“Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu”. Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang “kayak orang kebanjiran” seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.

“Bener kok, serius!” Ujarnya menegaskan.

Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban “Ya”. Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.

“Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu”.

Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.

“Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.

Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.

“Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku”.

Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.

Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.

Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini. Dan itu menambah kebahagiaan kami.

Wallahua’lam bish Shawwab ….
Barakallahufikum ….

Sumber : Majalah nikah sakinah volume 9 no 6 dengan sedikit perbaikan tulisan viaAsliBumiAyu.wordpress.com kemudian dipublikasikan ulang oleh kisahmuslim.com

[Foto Hanya Ilustrasi]

Wednesday, October 7, 2015

Relawan Sepuh Kita Ini, Pulang ke Allah Sambil Tersenyum

KEMARIN dini hari sebuah pesan masuk lewat telefon. Di Yogyakarta, subuh masih jauh. Di Gaza, bahkan belum tengah malam. Pesan itu pesan kematian. Ada ribuan kematian di Gaza. Semuanya istimewa.

Tapi untuk Sahabat Al-Aqsha, pesan ini lebih istimewa karena sangat pribadi. Salah satu pribadi yang pernah banyak membantu tunainya amanah-amanah Anda, Allah panggil pulang. Relawan sepuh kita bernama Ahmad Abu Syusya, usia 76 tahun, wafat kemarin lusa (10/12).

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.

Sungguh kita semua milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita semua kembali.

Kami memanggilnya Abu Wail, panggilan sayang yang biasa dipanggilkan anggota keluarganya.

Abu Wail saksi mata peristiwa An-Nakbah. Yaitu ketika tahun 1948 terjadi puncak pembantaian, teror oleh gerombolan-gerombolan Zionis Israel yang mengusir ribuan warga Palestina 1948.

Kala itu Abu Wail berusia 10 tahun, dipaksa serdadu Zionis ikut berjalan kaki mengungsi bersama orang tuanya, dari Palestina sampai ke Kuwait, 1.200 kilometer! Ya, jalan kaki.

Ya Allah… ya Allah…

Abu Wail ini pribadi yang sungguh istimewa. Umm Wail, demikian kami memanggil istri beliau, pernah bercerita kepada relawati Sahabat Al-Aqsha, “Abu Wail sangat sayang kepada saya. Lebih dari 50 tahun kami menikah, dia tak pernah marah…”

Pertama kali kami kenal Abu Wail, Musim Panas 2008, saat Sahabat Al-Aqsha berkunjung ke kamp pengungsi Khan Danun, di pinggir kota Damaskus, Suriah. Kakek belasan cucu itu penanggung jawab kesejahteraan ratusan keluarga pengungsi.

Ia pernah mengemban amanah yang sama di ‘Adn, Yaman. Sesudah pensiun dari profesinya sebagai paramedis.

Sejak perjumpaan di Damaskus hari itu, Abu Wail lah yang menangani bantuan yang disalurkan Sahabat Al-Aqsha ke kamp Khan Danun. Diantaranya santunan anak yatim pengungsi Palestina, daging qurban, dan bantuan untuk pusat kursus menjahit bagi kaum ibu.

Abu Wail juga hafal Al-Quran 30 juz.

“Ahlan… ahlan.. ahlan…,” pria yang fasih berbahasa Inggris ini menyambut kami seperti menyambut keluarga yang sudah puluhan tahun tak berjumpa. Padahal itu hari pertama kami berkenalan.

Rupanya itulah kekhasan Abu Wail, jumpa dengan siapa saja yang lama baru ketemu, dibungkukkan sedikit tubuhnya yang jangkung dan kekar itu. Lalu tangannya membuka lebar seperti kiper siap menangkap bola. Lalu memeluk kami.

Kalau ada orang yang punya hubungan paling dekat di rombongan itu, diangkatnya tubuh orang itu sambil dipeluk. Umur 70-an pun masih kuat mengangkat tubuh orang.

Senyumnya lebar. Senyumnya lebar… ya Allah, senyum itu…

Lihat, jenazahnya pun tersenyum lebar.

[Foto]
(Berikut ini terjemahan syair yang tertulis di poster di atas, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah itu…)

Katakanlah kepadaku

demi Rabb mu

apakah yang engkau lihat

dan membuatmu tersenyum?

Apakah kamu telah memulai

hari-hari penuh kenikmatan

wahai tuanku..

Apakah kamu telah melihat

Ja’far atau Bilal atau

kedua matamu telah lepas

dari dahaga dengan melihat

Nabi Muhammad

Shallallaahu ‘alayhi wa sallam

yang tercinta..

Mereka adalah Ahlul Quran…

Mereka adalah Ahlullah

dan orang-orang yang dipilih-Nya..

semoga Allah merahmatimu

wahai Abu Wail.

Katakanlah kepadaku

demi Rabb mu

apakah yang engkau lihat

dan membuatmu tersenyum…

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Abu Wail meninggalkan Damaskus di awal tahun 2012. Kegiatannya menolong warga Suriah yang dizhalimi rezim Basyar Assad, sudah sampai mengundang bahaya yang mengancam nyawanya.

Oleh para pemimpin Palestina di Suriah, Abu Wail termasuk yang diminta segera menyingkir. Ia boyong keluarganya, bukan ke Kuwait City, kota superkaya tempat ia dibesarkan jadi seorang paramedis profesional. Tapi ke Gaza yang sedang dikepung.

“Saya ingin Allah wafatkan saya di Tanah Ribath ini, Tanah Jihad,” katanya saat kami berkunjung Mei 2012.

Sehabis Perang Hijaratus Sijjil, Desember 2012, Sahabat Al-Aqsha singgah lagi di rumah mungilnya di kamp pengungsi Asy-Syathi’.

Abu Wail bercerita, hari-harinya dihabiskannya mengkaji Al-Quran. Beri’tikaf di masjid. Mengurus cucu. Menyemangati anak-anak dan cucu-cucunya untuk bertahan dan berjihad bersama para Mujahidin Gaza. Mencintai habis-habisan istrinya, Umm Wail, di sisa-sisa waktu yang Allah berikan. Sebelum kelak dipengantinkan lagi selama-lamanya di Firdausil A’la.

Aduh, Abu Wail…

Semakin banyak menulis ini… semakin berat rasanya kau tinggal kami duluan. Rindu senyummu. Sebaiknya cukup di sini saja.

Semoga Allah muluskan hisabmu. Tanpa hisab. Josss… langsung ke Syurganya, menjumpai para Nabi dan Rasul, para Shiddiqiin, para Syuhada, para Shalihin.

Allahumma aamiin.

[FOTO]

(Berikut ini terjemahan puisi di poster kedua, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah)

Inikah rembulan yang menghilang

tanpa menyisakan cahaya pada kegelapan negeri Yaman

Inikah mentari yang terbenam tidak menerangi bumi Syam,

karena kafan menghalangimu

Engkau meninggalkanku

dengan lesatan api yang menghanguskanku.

Aku menjadi orang asing tanpa negeri

Dalam diam,

sedih ini telah kehilangan pelipur mata,

mengungkap perih yang terkandung hati

Aku rindu senyummu yang cahayanya

memendari bagaimana cara merindui negeri

Aku rindu teguhmu yang tinggi,

telah menanamkan jejak perjuangan

sepanjang Damaskus hingga ‘Adn

Allah menjadi saksi atas janjimu,

Ayahanda, bahwa engkau mulia dan sabar

walau coba dan uji mendera

Semoga Allah alirkan bagimu Rahmat-Nya,

sebagaimana beburung bermain di dedaunan

di antara dedahan pohon.

=================================
[Sahabat Al-Aqsha.com]

https://www.islampos.com/relawan-sepuh-kita-ini-pulang-ke-allah-sambil-tersenyum-152081/

Thursday, July 30, 2015

Kekawatiran Negeri Barat Atas Peraturan Perzinahan di Turki

(Repost)

Barat khawatir Turki memutuskan zinah sebagai kejahatan. Jika mereka yakin ideologi sekuler-liberal dan kebebasan, mengapa umat Islam tidak boleh yakin akan hukum agamanya? Harian New Straits Times edisi 15 September 2004, memuat berita berjudul “Turkish women denounce plans to criminalise adultary”. Wanita-wanita Turki mengecam rencana untuk mengkriminalkan perbuatan zina. Diceritakan, bahwa parlemen Turki sedang mendiskusikan satu Rancangan Undang-undang yang diajukan pemerintah yang isinya menetapkan perzinahan sebagai satu bentuk kejahatan kriminal. Menurut PM Turki, Recep Tayyip Erdogan, Undang-undang itu dimaksudkan untuk melindungi keluarga dan istri-istri dari perselingkuhan/perzinahan suaminya. RUU itu kemudian menimbulkan kontroversi hebat. Yang menarik, bukan kalangan dalam Turki saja yang ribut, tetapi juga pejabat-pejabat Uni Eropa. Pejabat perluasan Uni Eropa, Guenter Verheugen, menyatakan, bahwa sikap anti perzinahan dapat menciptakan imej bahwa UU di Turki mulai mendekati hukum Islam. Bahkan, Menteri Luar Negeri Inggris, Jack Straw menyatakan, bahwa jika proposal itu disahkan sebagai Undang-undang, maka akan menciptakan kesulitan bagi Turki. 
"If this proposal, which I gather is only a proposal in respect of adultary, were to become firmly fixed into law, than that would create difficulties for Turkey".

Setelah mengalami perdebatan dan tekanan dari berbagai pihak, pemerintahan Turki akhirnya membatalkan RUU tersebut. Kasus di Turki ini menarik untuk disimak, bagaimana masalah moral yang menjadi urusan internal dalam negeri satu negeri muslim ternyata mendapat perhatian besar dari tokoh-tokoh Barat. Bahkan, dapat berdampak pada masalah politikus yang serius. Mengapa orang-orang Barat (Eropa) itu begitu khawatir jika rakyat Turki, melalui parlemen mereka, memutuskan bahwa perzinahan adalah salah satu bentuk kejahatan? Ada apa dibalik semua ini? Apakah karena mereka merupakan pelanggan tetap pelacur-pelacur Turki, sehingga dengan diundangkannya larangan perzinahan, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk melampiaskan syahwat mereka? Mengapa mereka tidak membiarkan saja, sesuai jargon demokrasi liberal mereka, rakyat Turki untuk menentukan apa yang baik dan buruk untuk mereka? Mengapa langsung saja mereka mengingatkan, bahwa undang-undang itu akan mendekatkan Turki kepada Islam? Mengapa? Banyak pertanyaan yang bisa kita ajukan. Tetapi, menarik untuk mencermati masalah ini dari sudut konflik peradaban dan menelaah kembali ramalan-ramalan ilmuwan terkenal Francis Fukuyama yang ditulis dalam bukunya “The End of History and The Last Man.” Kasus Turki ini menunjukkan, bahwa ramalan-ramalan Fukuyama, yang kadang dipopulerkan sebagai “teori”, tentang “akhir sejarah” umat manusia adalah tidak tidak benar. Sebagaimana diketahui, Fukuyama merupakan ilmuwan yang sangat terkenal setelah Era Perang Dingin, bersamaan dengan nama Samuel P. Huntington. Sebagaimana Huntington yang menulis bukunya setelah perdebatan panjang tentang artikelnya ‘The Clash of Civilizations?’ di Jurnal Foreign Affairs (summer 1993), buku Fukuyama itu juga merupakan pengembangan dari artikelnya ‘The End of History?’ di jurnal The National Interest (summer 1989). Dalam makalahnya tersebut, Fukuyama, mencatat, bahwa setelah Barat menaklukkan rival ideologisnya -- monarkhi herediter, fasisme, dan komunisme – dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Ia berasumsi, bahwa demokrasi liberal adalah semacam titik akhir dari evolusi ideologi atau bentuk final dari bentuk pemerintahan. Dan ini sekaligus sebuah ‘akhir sejarah’ (the end of history). ("A remarkable consensus concerning the legitimacy of liberal democracy as a system of government had emerged throughout the world over the past few years, as it conquered rival ideologies like hereditary monarchy, fascism, and most recently communism. More than that, however, I argued that liberal democracy may constitute the “end point of mankind’s ideological evolution” and the “final form of human government,” and as such constituted the “end of history".) 

Dalam bukunya, Fukuyama memasang sederet negara yang pada tahun 1990-an memilih sistem demokrasi-liberal, sehingga ini seolah-olah menjadi indikasi, bahwa - sesuai Ramalan Hegel - maka akhir sejarah umat manusia adalah kesepakatan mereka untuk menerima Demokrasi Liberal. Tahun 1790, hanya tiga negara, AS, Swiss, dan Perancis, yang memilih demokrasi liberal. Tahun 1848, jumlahnya menjadi 5 negara; tahun 1900, 13 negara; tahun 1919, 25 negara, 1940, 13 negara; 1960, 36 negara; 1975, 30 negara; dan 1990, 61 negara. Pada ‘akhir sejarah’, kata Fukuyama, tidak ada lagi tantangan ideologis yang serius terhadap Demokrasi Liberal. Di masa lalu, manusia menolak Demokrasi Liberal sebab mereka percaya bahwa Demokrasi Liberal adalah inferior terhadap berbagai ideologi dan sistem lainnya. Tetapi, sekarang, katanya, sudah menjadi konsensus umat manusia, kecuali dunia Islam, untuk menerapkan Demokrasi Liberal. Ia menulis:  “At the end of history, there are no serious ideological competitors left to Liberal Democracy. In the past, people rejected Liberal Democracy because they believed that it was inferior to monarchy, aristocracy, theocracy, fascism, communist totalitarianism, or whatever ideology they happenned to believed in, But now, outside the Islamic world, there appears to be a general consensus that accpets liberal democracy’s claims to be the most rational form of government, that is, the state that realizes most fully either rational desire or rational recognition.” 

Pendapat Fukuyama bahwa pada masa akhir sejarah tidak ada tantangan serius terhadap Demokrasi Liberal dan umat manusia - di luar dunia Islam - telah terjadi konsensus untuk menerapkan Demokrasi Liberal adalah merupakan statemen yang sangat debatable. Dalam memandang ‘demokrasi’, Fukuyama mengadopsi pendapat Huntington, tentang perlunya proses sekularisasi sebagai prasyarat dari demokratisasi. Karena itu, ketika Islam dipandang ‘tidak compatible’ dengan demokrasi, maka dunia Islam juga tidak kondusif bagi penerapan demokrasi yang bersifat sekular sekaligus liberal. Dalam kajiannya tentang Gelombang ketiga demokratisasi, Huntington menyebutkan: “Tampaknya masuk akal menghipotesakan bahwa meluasnya agama Kristen mendorong perkembangan demokrasi.” Fukuyama menyorot dua kelompok agama yang menurutnya sangat sulit menerima demokrasi, yaitu Yahudi Ortodoks dan Islam fundamentalis. Keduanya dia sebut sebagai “totalistic religious” yang ingin mengatur semua aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat publik maupun privat, termasuk wilayah politik. Meskipun agama-agama itu bisa menerima demokrasi, tetapi sangat sulit menerima liberalisme, khususnya tentang kebebasan beragama. Karena itulah, menurut Fukuyama, tidak mengherankan, jika satu-satunya negara Demokrasi Liberal di dunia Islam adalah Turki, yang secara tegas menolak warisan tradisi Islam dan memilih bentuk negara sekular di awal abad ke-20.  
Klaim-klaim Fukuyama tentang “konsensus umat manusia terhadap demokrasi liberal” dan “tidak adanya tantangan ideologis yang serius terhadap demokrasi liberal saat ini” sebenarnya sangatlah lemah dan paradoks dengan sikap negara-negara Barat sendiri. Itulah yang terlihat dalam kasus RUU anti-perzinahan di Turki. Tindakan Barat yang mengancam Turki soal RUU anti-perzinahan itu, membuktikan bahwa Barat memandang Islam secara paranoid, sebagai tantangan serius secara ideologis terhadap Demokrasi Liberal. Mereka masih terbukti sangat khawatir terhadap munculnya negara yang menerapkan ideologi Islam. Kita bisa mengingat kembali, bagaimana kuatnya dukungan Barat terhadap pembatalan Pemilu di Aljazair yang dimenangkan oleh FIS, padahal sikap itu justru bertentangan dengan demokrasi yang mereka kampanyekan. Menurut Christoper Ogden (dalam artikel "View from Washington", Times, 3 Februari 1992), tindakan AS yang mendukung permainan kekuasaan antidemokrasi merupakan suatu tindakan yang sangat keliru. Sikap AS dan Perancis yang menyatakan bahwa kudeta Aljazair "konstitusional", tidak lain merupakan gejala penyakit gila paranoid (ketakutan tanpa dasar) terhadap Muslim Fundamentalis. Ogden menulis bahwa nonsense menyatakan AS tidak dapat mempengaruhi perubahan di Aljazair. Seperti disebutkan terdahulu, pasca runtuhnya Komunisme, justru Barat menerapkan pandangan yang paranoid dan berlebihan terhadap Islam. Itu bisa disimak dari berbagai perlakuan yang diterima kaum Muslim yang memasuki negara-negara Barat setelah peristiwa 11 September 2001. Hanya karena namanya berbau Islam, atau wajahnya bercorak Arab, maka seseorang yang memasuki negara-negara Barat dapat menerima perlakuan yang tidak manusiawi. 
Koran Utusan Malaysia, edisi 15 September 2004, juga menurunkan tulisan Kamaruzaman Mohamad, seorang wartawan senior Malaysia yang baru-baru mengikuti pertemuan wartawan di AS. Ia menulis artikel berjudul “11 Sept. Ubah polisi AS”. (dalam bahasa Indonesia, artinya: 11 September Ubah Kebijakan AS). 
Diceritakan, bahwa kebijakan anti-terorisme memang pada kenyataannya, ditujukan kepada semua orang Islam. Itu dialami oleh semua orang Islam yang memasuki AS, yang secara dicurigai sebagai teroris atau mendukung teroris, sehingga harus diperlakukan khusus saat memasuki negara itu. Hanya karena namanya Islam, Ia diperiksa ketat, tasnya dibuka tanpa pengetahuannya, dan prosedur ketat lainnya. Ia bertanya, mengapa hanya orang Islam saja yang diperlakukan seperti itu? Mengapa orang bukan Islam mudah-mudah saja memasuki AS? Apakah yang melakukan tindakan terorisme hanya orang Islam? Mungkin, tindakan ketat semacam itu, sebagaimana diceritakan oleh Kamaruzaman, tidak berlaku atas orang-orang dari kalangan Muslim yang jelas-jelas sudah dikenal sebagai “The Darling of Washington” yang mengabdikan hidup dan matinya demi menyebarkan nilai-nilai dan pandangan hidup yang diridhoi oleh AS. 

Sebuah buku berjudul “Painting Islam as the New Enemy” (2003), karya Abdulhay Y. Zalloum, cukup memberikan gambaran, bagaimana rekayasa kelompok-kelompok garis keras di AS, termasuk Wolfowitz, Rumsfeld, dan Huntington, untuk membuat skenario politik internasional pasca Perang Dingin. Kelompok inilah yang menskenario tampilnya Presiden George W. Bush, dan kemudian mempengaruhi jalannya politik internasional hingga saat ini. Pada akhirnya, pasca Perang Dingin, mereka menskenario, untuk menempatkan Islam sebagai musuh utama. Aksi terorisme yang dilakukan umat Islam akan dicap sebagai terorisme, sementara aksi teror terhadap penduduk Muslim akan dikspose sebagai tindakan mulia untuk memberantas teroris. Tajuk Koran Utusan Malaysia juga mengupas tentang isu terorisme (keganasan), yang berjudul “Melihat keganasan dari dua sudut”. Tajuk ini mempertanyakan, “Apakah bedanya serangan bom yang dilancarkan oleh kumpulan Jemaah Islamiyah (JI) dengan serangan bom yang dilakukan oleh AS?” Kasus respon Barat terhadap RUU anti-perzinahan di Turki juga menunjukkan, begitu takutnya Barat terhadap kembalinya Islam ke dalam kehidupan masyarakat dan politik di Turki. Barat tidak ribut dengan dominannya cengkeraman kristen fundamentalis dalam politik di AS, tetapi khawatir sekali dengan Islam. Sebab, masa lalu Turki adalah masa lalu yang penuh kegemilangan, ketika mereka masih di bawah kekuasaan Utsmani. Setelah kalah dari Barat, Turki diwajibkan sekular, dan tidak secara “sukarela” untuk menjadi sekular. Adalah salah besar klaim Fukuyama, bahwa telah terjadi konsensus umat manusia terhadap demokrasi liberal. Jika ia memuji Turki sebagai satu-satunya negara yang menerapkan demokrasi liberal di dunia Islam, maka Fukuyama mestinya mengungkap fakta, bahwa demokrasi liberal dan sekularisme di Turki ditegakkan dengan tangan besi dan kekuasaan yang kejam. 

Kasus yang menimpa PM Erbakan, yang hanya berkuasa selama 18 bulan, bisa disimak. Karena dianggap mengancam prinsip negara sekular, Erbakan dijatuhkan. Penggantinya, Mesut Yilmaz dari Partai Ibu Pertiwi, menyatakan: “Negara ini butuh pemerintahan yang kuat yang mampu mempertahankan sistem sekular." Babak-babak berikutnya adalah kehidupan yang penuh represif terhadap kaum muslim Turki. Di bawah jargon “mempertahankan sistem sekular”, pemerintahan sekuler Yilmaz yang disokong penuh oleh militer dan Barat bertindak tidak demokratis (otoriter). Setelah Erbakan diturunkan, Partai Refah dilarang. Sekularisasi diberlakukan dengan ketat. Wanita-wanita muslimah dilarang mengenakan jilbab di kantor-kantor pemerintah dan di kampus. Sekolah-sekolah agama ditutup. Jam siaran agama di TV dipangkas. Turunnya Erbakan dapat dikatakan sebagai jalan terbaik untuk menghindari terjadinya kudeta militer, sebagaimana terjadi pada tahun 1960. Kasus tahun 1960 itu hampir sama dengan kasus yang menimpa Erbakan. Pada pemilihan umum tahun 1950, Partai Demokrasi pimpinan Adnan Mandaris unggul atas Partai Republik bentukan Musthafa Kemal Attaturk, Bapak Sekularis Turki.

Selama 10 tahun berkuasa, Adnan Mandaris berusaha menempatkan Islam kembali dalam masyarakat Turki, dengan cara yang sangat halus. Di masa Mandaris, azan kembali dikumandangkan dalam bahasa Arab (sebelumnya dilakukan dalam bahasa Turki; Lafazh Allahu Akbar diganti dengan Allahul Buyuk), masjid-masjid yang telah dihancurkan direnovasi, fakultas teologi dibuka kembali, dan sejumlah lembaga tahfidzul Quran muncul kembali.
Meskipun yang dilakukan oleh Mandaris adalah sangat manusiawi dan jauh dari sikap radikal, akan tetapi kebijakan-kebijakan Mandaris itu dianggap sebagai kejahatan oleh kaum Sekular Turki, terutama kelompok militer yang bertindak sebagai penjaga gawang sekulerisme. 
Di Turki, salah satu fungsi militer adalah sebagai National Security Guard (NSC). Mandaris dituduh menciptakan pemerintahan yang primitif, statis, berkhianat terhadap ajaran Kemal Attaturk, mengancam demokrasi, merusak struktur hukum, dan lain sebagainya. Sebagai “hukuman” terhadap Mandaris, pada tahun 1960, terjadi kudeta militer dan Mandaris bersama Ketua Parlemen Bulatuqan dan Menteri Luar Negeri Fatin Zaurli dihukum mati. Attaturk sendiri menjalankan pemerintahan sekularnya secara diktator. Ia tak segan-segan menghukum mati orang-orang yang enggan kepada pemerintahan Kemalis. Pada tanggal 13 Juli 1926, 15 orang digantung dimuka umum. Tahun 1930, 800 orang anti-Kemalis ditangkap dan dihukum mati. Tahun 1931, keluar peraturan yang melarang media massa mengeluarkan propaganda yang dianggap membahayakan pemerintahan sekular Kemalis. Selama 80 tahun lebih Turki telah berkhidmat kepada Barat, mengikuti prinsip sekularisme, tetapi nasib mereka masih belum berubah. Uni Eropa masih tetap menolak permohonan Turki untuk bergabung. Turki diwajibkan menjadi negara sekular. Dia dipuji Fukuyama sebagai satu-satunya negara demokrasi liberal di dunia Islam. Tetapi pada saat yang sama dia tidak boleh menjalankan prinsip dan mekanisme demokrasi ketika demokrasi itu digunakan untuk menyepakati hal-hal yang sesuai dengan Islam, seperti kriminalisasi perzinahan.

Itulah prinsip Barat dalam berdemokrasi liberal: wajib sekular, wajib anti-Islam! Di kalangan Muslim, kadangkala ada yang tidak peduli akan hal ini. Mereka berteriak-teriak menuding orang Islam yang mereka katakan “menghegemoni kebenaran”, tetapi pada saat yang sama, mereka menutup mata terhadap perilaku “tuannya” yang juga melakukan hegemoni kebenaran dengan memaksakan sekularisme kepada umat manusia, dan menghalang-halangi umat Islam untuk menerapkan keyakinannya.

Jika Barat dan pengikutnya yang sekular-liberal yakin dengan ideologinya, yakin dengan sekular dan liberalnya, yakin dengan kebebasan zina dan homoseksualnya, yakin dengan kemaslahatan pelacuran dan kebebasan ekspresi pornografinya, lalu mengapa umat Islam tidak boleh yakin akan keagungan Tuhan dan hukum-hukum-Nya?

Syair "Suluk Ranting Tua" oleh Abimardha Kurniawan

Ada beberapa syair yang membekas dipikiran saya. Senang membacaya berulang-ulang disaat pikiran ini terasa buntu akan imajinasi. Terasa nyaman disaat malam gulita menyelimuti. Terasa terlalu indah dibaca bersama percakapan para jangkrik. Walau tempat tinggal tak lagi seasri desa yg damai dan menghijau.
Mari disimak...

----------------------------------------------------------------

Suluk Ranting Tua

di pagi milik pohon-pohon, matahari pelan menarik tali busur
panah-panah cahaya melesat, seakan likat, dingin tak seberapa pekat
hanya lewat. di bawahnya penyair merapat, di hadapannya
— rerunduk ranting tua, runduk yang termakan usia, 
bergeming, penjuru pagi kemuning, disepuh angin nan bening

penyair:
hai, kering jemari ranting tua,
yang tiada tumbuh bunga pada ujungnya, mengapa
mengapa menunda patah. padahal telah jatuh pula sejarah, buah demi buah.
padahal kawanan burung gereja
berulang hinggap dan terbang. mereka tiada kau sapa
hanya ringkih saja kau mengangguk dan bergoyang...

ranting tua:
penyair, aku hanya bertapa. aku tak bahagia
hanya dengan cakar burung gereja. bila kutatap senja
kutatap juga angin mampat semakin renta,
bagai pemain piano tak kenal nada, kubuang segala bicara
kuingin musim berhenti, atau mundur sekali lagi.

tapi aku belajar membaca pesona akan waktu yang berlari,
dan mengikat ingatan akan tanah tandus berhumus
dengan daun-daunku yang rela menjelma kata
— tentu dalam sajakmu jua

sekarang, dengarlah hei penyair, kembangkan dengar
tangkap bulu-bulu angin yang lepas.
rasai daunku meluncur menurut alur rambutmu.
aku tiada beruban, meski kulitku kusut, pokokku rentan,
belulangku serawan perawan,
tapi dengar dan lihatlah dulu
— rasakan dunia memencil di matamu

penyair:
ranting tua, aku birahi membawa namamu kembali.
dirimukah biji yang dulu kutanam
ataukah adam mengajarimu bersetia pada dunia
seraya melihat anak-anaknya berebut kavling tanah di selasar surga?

bagiku, tua hanya racun usia, dimana
masing-masing kita dipaksa mencari kaca
menemukan bebayang kita
yang malas bersegera dewasa

tiadakah kau merasakannya, hai ranting tua?

rating tua:
penyair, tiada aku percaya tanganmu penuh duka.
bahkan ketika deras kata-kata purba yang kau punya
bergegas ke muara, tak kulihat,
juga tak kurasa, beku salju menuju cair, 
meski niatmu, seluruh musim dingin segera cair dan berakhir 

penyair, kesepianmu patung perunggu.
kesunyianmu arang serapuh debu.
mulailah bernyanyi, peras anggur jiwamu.
tanam benih kesabaranmu,
sebelum hujan mengirim badai,
dan banjir jadi benteng terakhir
bagi sebuah kota 
yang terlahir untuk nyinyir 

mungkin, kau harus jujur sebagai penyihir
usah uarkan pekik bahagia
setelah kau lepas isyarat—dalam berlaksa lambang
serta kata-kata yang keras kepala

penyair:
itu hanya sejengkal jarak, tak kukuasai bunyi hati.
namun semua samun,
semua terberkati sebagai pencuri

ranting tua, beri aku daunmu
sebelum kutunggangi beburung takdirku
sebelum aku pergi, dan laut bangkit
menderaikan ombaknya
— melimbur pecah, mengunyah nyawa

ranting tua:
hei penyair, basahi dulu telapakmu.
musim panasmu sering memaksa cerminmu berdebu.
rangkul debu-debu itu, 
ajak mereka bertemu dengan percik air di ujung jarimu
lalu lepaskan,
biarkan cermin mengurai bayanganmu

penyair:
selalu aku risau memandang kemarau
wahai, ranting tua

ranting tua:
baiklah, remas daunku
bayangkan tiada dosa bila tanganmu basah oleh getah:
ia hanya darah kekasih,
yang lesatkan anak panah bercahaya
ke lampu sorga yang kian redup nyalanya

di pagi milik pohon-pohon, penyair dan ranting tua 
sama merindu makna. lalu puisi meninggi, 
menyusul matahari, meneteskan cahaya...

Surabaya, 2007-2009

Abimardha Kurniawan

Tuesday, December 30, 2014

Suluk Bunga Zaman

Peringaimu bermuka dua
Sebelah bunga sebelah singa
Menghancurkan isi hati dan kepercayaan

Kehendakmu seakan tak tersamarkan
Tapi terasa di naluriku dan logika
Kau bersembunyi pada indahnya kelopak bunga,
Tetapi berduri batang tangkaimu
Aku tahu indahnya hidup yang kau cari
Tapi ikhwal yang tak pernah kau raih

Buta, mata mu tersamarkan.. Kau lupa akan kuasa tuhan.. Karna hidup mempunyai tujuan..

Pada akhirnya diri sendirilah yang menentukan, melangkah kekiri atau kekanan.. Hingga akhir tujuan..
Pada sang ilahi lah kita akan dipersaksikan..

Handil, 30 desember 2014

Monday, December 29, 2014

Berat Kawan

Berat hidup ini kawan..
Terkadang ada hal2 yg ingin kita selesaikan tiba2 itu hanya terlewatkan
Kadang ada hal yg ingin kita kerjakan tapi terikat hal lain hingga terabaikan
Kadang ada peluang tapi rasa malas terlalu membeban.. Hingga penyesalan.
Kadang tak puas dengan apa yg telah tercapai seolah salah arah dan tujuan
Kadang teringat hal-hal silam, tersenyum lalu berbisik pada pikiran mengapa waktu sungguh cepat tergantikan...
Kadang kejadian telah terjadi oleh tindakan kemudian muncul rasa penyesalan
Kadang kenyataan tlah dihadapi tak dapat kembali, sadar tak dapat membalik keadaan..
Kadang berada di keramaian tetapi ingin merasa sendirian
Kadang terdiam seolah terbenam sebenarnya ingin diperhatikan..
Kadang tersenyum dengan cengkrama
Seorang teman tetapi benak terbang melintang tak mendengarkan
Kadang merasa tinggi kemudian menukik rendah melihat keberhasilan seseorang..
Kemudian berpikir kembalii, belum semua impian hidup ku selesaikan..

Sembari melihat pada tempat berpijak untuk apa aku berada disni tolong jawabkan...
Hingga ku lihat matahari terbenam di ujung senja jingga kemerahan,
Itu sungguh memilukan..

Muara jawa 29 desember 2014

Monday, December 22, 2014

Deru Jelantah Bumi

Malam selalu berbisik
Menarik meliuk ke imajii bersenyap
Pikiranku tersabit oleh deru jelantah bumi
Seperti aku pernah disana
Bermain rangka besi yang tertaut
Beralas logam yang terpijak
Berbunga api yg memekar
Tapi masih kujunjung langit
Terjaga saat gulita meyapa laut
Berjaga bersama riuh mesin menyiul
Iya kudapat sejenak keheningan disana, sesaat terdengar riuh jelantah bumi menderu dari kejauhan
Rasanya ingin menuangkan kembali sekilap mlam itu.
Hanya waktu menyaksi,
Bintang terkelip dirasi
Langit ini sungguh sangat luas...
Tak sadar nilon tertarik
Menggerakkan dua jemari
Makhluk kecil penopang kehidupan
sedikit hiburan di malam yg tenang ini
Di tambah Seruput hitam kopi
Menunggu hingga sudut langit terganti

22 desember 2014, handil

Sunday, March 30, 2014

Selamat Jalan Om Memet.. (Alfiansyah bin Ahmad Said)

Selasa, 25 Maret 2014. Pagi itu terasa biasa saja tak ada yang aneh dari biasanya, tapi ada yang sedikit mengganjal dipikiran. Om sedang sakit di Rumah sakit, pacar rencana pulang hari ini jadi buru-buru mempersiapkan bekal untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Rencana mau ikut pulang kerumah orang tuanya di Long Telenjau, Bulungan Kalimantan Utara, tapi nanti menyusul saja. (Sekarang kalimantan timur telah terbagi menjadi 2 bagian yaitu provinsi baru Kalimantan Utara). Banyak bekal yang disiapkan. Tak lupa kemarin mencari bibit singkong gajah, siapa tau berguna buat di kampung.
Singkong gajah karya Faperta Unmul siap dikirim. Kata orang disana belum ada singkong gajah, jadi apa salahnya saya titip buat tanam di kampung. Singkong gajah terkenal dengan umbinya yang besar dan rasanya yang empuk. Kata orang banjar samarinda "Hapuk". Satu pohon bisa menghasilkan 15-20 Kg lebih umbi singkong. Waw karya luar biasa anak-anak Universitas Mulawarman. Singkat cerita saat hendak pulang, cuaca sangat mendung. Hujan deras. Yah.. ini membuat perasaan makin sedikit susah untuk merelakan dia pulang.. Akhirnya mobil Travel datang menjemput. Makin terasa sesak campur gelisah meliat dia hilang dikejauhan. hm sabar, tenang.. sambil membisikkan sugesti untuk diri sendiri. "InsyaAllah dia bakal baik-baik saja kok". Amin.
Sesampai di Asrama Kutai 5 ku luangkan waktu untuk bercengkerama dengan teman sesaat. 
Tak lama kami bercengkerama telepon berbunyi. Ternyata mama yang sedang menelepon. "wan kamu dimana? wan on memet meninggal di ICU RS.AWS samarinda". Innalillahi wa inna ilaihi roojiunn.. sontak dada sesak serasa tak percaya. astaga kok bisa?? Masih merasa tak percaya, aku meminta pajeri untuk menemani ke RS. Sesampai di RS aku langsung menuju ruang ICU. Disana sudah ada para sepupu.
Yuda, Danu, dan Fahmi. Fahmi adalah anak tertua om Memet. Kubuka tirai yang menghalangi monitor rekam jantung. "Ya Allah om.. kok bisa.. cepat betul om di panggil yang maha kuasa..". Batin ku membadai. Linangan air mata tak dapat terbendung. Tak tahu apa yang harus ku lakukan. Padahal aku pun seorang Paramedis. Pikiran makin berkecamuk, aku tak dapat berbuat banyak untuk om ku sendiri. Dalam hatiku, kenapa aku tidak ada saat om ku sedang membutuhkan ku. Kenapa aku tak datang malam tadi. Kejadiannya sangat tiba-tiba, aku baru mendengar kali ini om memet sakit, sebelumnya ia tak pernah sakit. Sambil ku buka kain yang menutupi jenazah beliau, kucium pipi kanan dan kirinya. sambil terus menangis. "Ya Allah om., kok cepat betul om..." ku liat fahmi juga turut menangis di samping ku. Aku tau perasaan dia. Tak tertahan. Sambil keluar ruangan, aku masih ingat senyum nya sewaktu beliau masih hidup. Aku ingat pribadinya yang periang dan ulet. Ku tenangkan diri di parkiran. Sambil berbicara pada Danu dan Yuda. "Kasian Om memet..." batinku. Memang yang membuat batinku makin miris, om memet mempunyai masalah sebelum kepergiannya. Tak etis rasanya kalau ku berbicara disini, yang terpenting ingat lah selalu kebaikannya.
Om memet adalah sosok yang periang menurut ku, selain periang dia juga suka bercanda. sangat jarang menampakkan raut wajah yang masam. Dia orang yg ulet berkerja. Apapun akan dia kerjakan untuk mengisi hari-nya. Walaupun aku jarang bertemu dia dan kurang terlalu akrab tapi sosok dia di mataku cukup berkesan. Dia adalah salah satu Paman yang ku kagumi. Sosok periang nya tak dapat terlupakan. Aku berdoa semoga dia tenang di alam selanjutnya, semoga mendapat nikmat kubur, segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Semoga syurga kelak adalah tempat terakhir yang di tempati nya, amin. Iwan mohon maaf ya om kalau semasa hidup mungkin iwan ada berbuat salah atau berbuat yang tidak menyenangkan hati om. Mungkin hanya partisipasi pelayatan dan doa yang dapat aku sembahkan untuk om yang terakhir kalinya. Jujur om, iwan sangat menyesal tidak datang malam itu menjenguk om. Tidak dapat melihat om untuk terakhir kalinya. Tidak dapat meminta maaf. Tidak dapat memberi support atau semangat buat om. Sungguh menyesal. Semoga Syurga, semoga syurga semoga Syurga, Amin. semoga khusnul khotimah....................

Hari kemarin terasa sangat berat, selain nyonyah pulang kampung, kepergian om memet sangat membuat titk balik dalam jiwa. Semoga selalu mendapat pelajaran yang baik buat jiwa. Setelah selesai menguburkan, kami sekeluarga berkumpul sejenak dan pulang. Samarinda merupakan tempat kedua setelah rumahku yang selalu menorehkan sisa-sisa sejarah diri. Berangkat dari arama kutai 5 menuju Handil sungguh masih merasakan bekas berat. Saat di perjalanan kulihat matahari sore bersinar kuning orange. Terpantul dari kaca spion, sehingga seolah-olah menjadi dua matahari. Kuning orange besar yang terpantul dari dua kaca spion makin mengisyaratkan yang tak tahu apa arti dan maknanya. Sungguh indah ciptaanmu ya Rabb.... menetes air mata tanpa terasa... seolah-olah itu mengisyaratkan kepergian om memet, suatu lambaian hangat terkhir dari sang periang untuk yang di tinggalkan.......
Barakallah Fii kum.


untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan.
Untuk yang mencintainya. Untuk siapa saja yang cinta padanya.
semoga dapat menjadi kenang-kenangan.

OM MEMET
ALFIANSYAH BIN AHMAD SAID
LAHIR             : 24 APRIL 1963
MENINGGAL : 25 MARET 2014

Tuesday, March 18, 2014

Jiwa Mendikte

Jiwa lelah, raga tak mau menyerah
Jiwa sadar, raga tak mau mengalah
Jiwa paham, raga tak toleran
Jiwa dikte raga, raga sedang berkuasa
Jiwa senang kedamaian, raga senang keindahan
Jiwa ingin mimpi, raga .... pahlawan kesiangan.
Pada akhirnya raga menerima akibatnya!
Jiwa kemudian hanya bersimpuh bersahaja.

Terjaga..

Handil, 18 Maret 2014

Tuesday, July 2, 2013

Sukarno, Bendera Pusaka dan Kematiannya


Oleh: Anton Dwisunu Hanung
Nugrahanto Monday, June 21,
2010 at 12:41pm


Tak lama setelah mosi tidak percaya, Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno dengan wajah sedih membaca surat pengusiran itu. Ia sama sekali tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang diperintahkan Suharto untuk mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang". Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu?" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata , "Mereka pergi ke rumah Ibu" rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara,". Kata Bung Karno lalu ia pergi ke ruang depan dan mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan, ia maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik negara". Semua ajudan menangis Bung Karno mau pergi, "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan" salah satu ajudan hampir berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. "Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan hidung kita, perang dengan bangsa sendiri tidak..lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". Beberapa orang dari dapur berlarian saat tahu Bung Karno mau pergi, mereka bilang "Pak kami tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya" Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga hari itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa...."
                                                                            * * *
Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang seorang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, bapak segera meninggalkan tempat ini" Beberapa tentara sudah memasuki beberapa ruangan. Dalam pikiran Bung Karno yang ia takuti adalah bendera pusaka. Ia ke dalam ruang membungkus bendera pusaka dengan kertas koran lalu ia masukkan bendera itu ke dalam baju yang dikenakannya di dalam kaos oblong, Bung Karno tahu bendera pusaka tidak akan dirawat oleh rezim ini dengan benar. Bung Karno lalu menoleh pada ajudannya Saelan. "Aku pergi dulu" kata Bung Karno hanya dengan mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang hitam. "Bapak tidak berpakaian dulu" Bung Karno mengibaskan tangannya, ia terburu buru. Dan ke luar dari Istana dengan naik mobil VW kodok, ia minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati di Sriwijaya, Kebayoran. Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka itu dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun yang tumbuh di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya, Ia sakit ginjal para,h namun obat-obatan yang biasanya diberikan tidak kunjung diberikan. Hanya beberapa minggu Bung Karno di Sriwijaya, tiba-tiba datang satu truk tentara ke rumah Sriwijaya.
                                                                            * * *

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri yang orang Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku Bung Karno bilang "Aku pengen duku.. Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya juga sedikit ngelihat dompetnya, ia cukup uang untuk beli duku. Lalu Nitri mendatangi tukang duku
dan berkata "Pak bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil" Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke Bung Karno "Mau pilih mana Pak, manis- manis nih" kata Tukang Duku dengan logat betawi. Bung Karno berkata "Coba kamu cari yang enak" Tukang Duku-nya merasa sangat akrab dengan suara itu dan dia berteriak "Lha itu kan suara Bapak...Bapak...Bapak" Tukang Duku berlari ke teman-temannya pedagang "Ada Pak Karno...ada Pak Karno" serentak banyak orang di pasar mengelilingi Bung Karno. Bung Karno tertawa, tapi dalam hati ia takut orang ini akan jadi sasaran tentara, karena disangka mereka akan mendukung Bung Karno. "Tri cepat jalan".....
                                                                          * * *

Mendengar Bung Karno sering ke luar rumah, maka tentara dengan cepat memerintahkan Bung Karno diasingkan. Di Bogor, dia diasingkan ke Istana Batu Tulis dan dirawat oleh: Dokter Hewan ..... Lalu Rachmawati datang dan melihat ayahnya, ia menangis keras-keras saat tahu wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit jalan, Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Malamnya ia memohon pada bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan pada Presiden" kata Bung Karno dengan mengucurkan air mata. Dia menulis surat dengan tangan bergetar, dan pagi-pagi sekali Rachma ke Cendana, rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget karena ada Rachma di sana. Bu Tien memeluk Rachma dan di saat itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya, hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu membawanya ke atas, ke ruang kerja Pak Harto. "Lho Mbak Rachma ada apa?" Kata Pak Harto dengan nada santun, Rachma-pun menceritakan kondisi ayahnya. Pak Harto berpikir sejenak dan dia menuliskan memo untuk diperintahkan kepada anak buahnya, agar lalu dia dipindahkan ke Wisma Yaso, yang sama sekali tidak terawat. Kamar Bung Karno sudah berantakan sekali, bau dan tidak diurus. Bung Karno tidak boleh ke luar kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu. Dokter yang diperintahkan untuk merawat, Profesor Mahar Mardjono sampai mau menangis, saat tahu bahwa semua obat-obatan yang biasa digunakan oleh Bung Karno, dibersihkan dari laci obat atas dasar perintah Perwira Tinggi. Mahar hanya bisa memberikan vitamin dan Royal Jelly, yang sesungguhnya adalah madu. Jika sulit tidur, dia diberi valium, Sukarno tidak diberikan obat, bila terjadi pembengkakan ginjal. Rumor yang mengatakan Bung Karno hidup sengsara, banyak beredar di masyarakat, Beberapa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno, tapi penjagaan sangat ketat.
                                                                         * * *

Pada awal tahun 1970, Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Muka Bung Karno sudah bengkak. Ketika banyak orang tahu Bung Karno datang ke rumah itu, orang banyak berteriak "Hidup Bung Karno ... Hidup Bung Karno ... Hidup Bung Karno !!!" Sukarno yang reflek, karena ia tahu benar dengan suasana gegap gempita, tertawa dan melambaikan tangan, Tapi, dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno, dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham, dia adalah tahanan politik.
                                                                          * * *

Masuk ke bulan Februari, penyakit Bung Karno parah sekali, Ia tidak kuat berdiri, Tidur saja, Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan, biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak "sakit ... sakit ya Allah .." Tapi tentara terpaksa diam saja, karenadisuruh komandan, Sampai ada salah satu tentara yang sampai menangis, mendengar teriakan Bung Karno di dalam kamar, sambil tangannya memegang senjata. Kepentingan politik tak mungkin bisa membendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto, dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumah Hatta duduk di beranda, ia menangis diam-diam mengenang sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi, untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin bisa ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" Hatta menoleh pada isterinya "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama, agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kita, itu lumrah, tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno terlalu sakit seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto, untuk bertemu Sukarno, Ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia boleh menjenguk Sukarno. Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, Tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta, Ia tercekat, mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda -Bagaimana pula kabarmu, Hatta- .Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, Air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno, dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan rusak, Kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini, di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, Suatu hubungan yang menyesakkan dada. Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945, Bung Karno menunggui Hatta di kamar, untuk segera membacai Proklamasi, Saat kematiannya, Bung Karno juga menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.
                                                                       * * *
Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer di jalan. Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang orang-orangnya menangis karena Bung Karno meninggal. Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap. Tapi, sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir. Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat wajah Bung Karno, Di pinggir jalan Gatot Subroto, banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno, menolak dengan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, Mereka diusiri, tapi datang lagi. Begitu cintanya rakyat Indonesia pada Bapaknya. Tahu sikap rakyat seperti itu, akhirnya tentara menyerah. Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang Indonesia yang rajin menulis catatan hariannya, pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih, Koran koran yang isinya hanya menjelek- jelekkan Bung Karno, sontak tulisannya memuja Bung Karno. Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan secara manusiawi, Meninggalnya, dengan cara yang agung. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, Mereka datang karena cinta, bukan paksaan. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa memperlakukan orang yang kalah. Walau pun orang yang kalah, adalah orang yang memerdekakan bangsanya, Orang yang menjadi alasan terbesar, kenapa Indonesia harus berdiri.Tapi diperlakukan layaknya binatang, Semoga. kita tidak mengulangi kesalahan seperti itu. .......

21 Juni - Tanggal meninggalnya Bung
Karno.
LIHAT VIDEO DEKLARASI PANCASILA Oleh Bung Karno 
: