: Bait Bait Jiwa: Sajak
Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Sunday, March 13, 2016

Kata Mutiara Salafy

Bismillaah hirrohman niirrohiim..

1. Ustadz Maududi Abdullah:
#"Jika engkau tidak mampu merangkul saudaramu ke surga, paling tidak jangan menjadi jembatan baginya menuju neraka."
.
#"Tidak Mungkin kecerdasan anda melebihi kebenaran yang diajarkan Allah, melebihi kebenaran yang diajarkan Rasulullah, tidak Mungkin."
.
#"Jika menurutmu ia tidak bisa menjadi sahabat bagimu maka tinggalkanlah dia, namun tidak perlu sampai engkau menjadikannya sebagai musuhmu."
_________________________________________________________
2. Ustadz Firanda Andirja:
#"Jangan sampai mengejar rizki menjadikan engkau lalai dari Yang Maha Pemberi Rizki."
.
#"Agama Islam agama dalil, bukan dongeng bukan cerita, bukan kata orang, bukan banyaknya orang, kita gak mengikuti nenek moyang , yang kita ikuti adalah dalil."
.
#"Akhlak yang mulia adalah membalas keburukan dengan kebaikan, Kalau hanya berbuat baik kepada yang baik maka itu sudah merupakan keharusan.
.
#" Jika orang ingin berubah, temannya juga harus berubah."
_____________________________________________________________
3. Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawas:
#"Semakin seseorang sibuk memikirkan kebahagian saudaranya, maka ia semakin dibahagiakan Allah ".
.
#"Masuk Ramadhan ini antara berharap dan cemas, berharap mendapat ampunan Allah dan cemas bila keluar ramadhan dosa belum mendapat ampunan-Nya."
______________________________________________________________
4. Ustadz Syafiq Reza Basalamah:
#"Sibukkanlah diri dengan menuntut ilmu. Jangan menyibukan diri dengan mengurusi Fitnah. Berapa banyak kitab ulama yang belum kita baca? Ribuan!"
______________________________________________________________
5. Ustadz Badru salam:
#"Penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya. Penyesalan di akhirat kelak tak akan berguna lagi."
______________________________________________________________
6. Ustadz Abdullah Zaen:
#"Sekeras apapun teriakan orang bila anda menyikapinya dengan diam dan bahkan tersenyum maka ia segera diam."
______________________________________________________________
7. Ustadz Arifin Badri:
#"Kita takut mati? padahal mati lebih baik dari pada fitnah, Kita takut miskin? padahal miskin lebih ringan untuk hisab”

Thursday, July 30, 2015

Syair "Suluk Ranting Tua" oleh Abimardha Kurniawan

Ada beberapa syair yang membekas dipikiran saya. Senang membacaya berulang-ulang disaat pikiran ini terasa buntu akan imajinasi. Terasa nyaman disaat malam gulita menyelimuti. Terasa terlalu indah dibaca bersama percakapan para jangkrik. Walau tempat tinggal tak lagi seasri desa yg damai dan menghijau.
Mari disimak...

----------------------------------------------------------------

Suluk Ranting Tua

di pagi milik pohon-pohon, matahari pelan menarik tali busur
panah-panah cahaya melesat, seakan likat, dingin tak seberapa pekat
hanya lewat. di bawahnya penyair merapat, di hadapannya
— rerunduk ranting tua, runduk yang termakan usia, 
bergeming, penjuru pagi kemuning, disepuh angin nan bening

penyair:
hai, kering jemari ranting tua,
yang tiada tumbuh bunga pada ujungnya, mengapa
mengapa menunda patah. padahal telah jatuh pula sejarah, buah demi buah.
padahal kawanan burung gereja
berulang hinggap dan terbang. mereka tiada kau sapa
hanya ringkih saja kau mengangguk dan bergoyang...

ranting tua:
penyair, aku hanya bertapa. aku tak bahagia
hanya dengan cakar burung gereja. bila kutatap senja
kutatap juga angin mampat semakin renta,
bagai pemain piano tak kenal nada, kubuang segala bicara
kuingin musim berhenti, atau mundur sekali lagi.

tapi aku belajar membaca pesona akan waktu yang berlari,
dan mengikat ingatan akan tanah tandus berhumus
dengan daun-daunku yang rela menjelma kata
— tentu dalam sajakmu jua

sekarang, dengarlah hei penyair, kembangkan dengar
tangkap bulu-bulu angin yang lepas.
rasai daunku meluncur menurut alur rambutmu.
aku tiada beruban, meski kulitku kusut, pokokku rentan,
belulangku serawan perawan,
tapi dengar dan lihatlah dulu
— rasakan dunia memencil di matamu

penyair:
ranting tua, aku birahi membawa namamu kembali.
dirimukah biji yang dulu kutanam
ataukah adam mengajarimu bersetia pada dunia
seraya melihat anak-anaknya berebut kavling tanah di selasar surga?

bagiku, tua hanya racun usia, dimana
masing-masing kita dipaksa mencari kaca
menemukan bebayang kita
yang malas bersegera dewasa

tiadakah kau merasakannya, hai ranting tua?

rating tua:
penyair, tiada aku percaya tanganmu penuh duka.
bahkan ketika deras kata-kata purba yang kau punya
bergegas ke muara, tak kulihat,
juga tak kurasa, beku salju menuju cair, 
meski niatmu, seluruh musim dingin segera cair dan berakhir 

penyair, kesepianmu patung perunggu.
kesunyianmu arang serapuh debu.
mulailah bernyanyi, peras anggur jiwamu.
tanam benih kesabaranmu,
sebelum hujan mengirim badai,
dan banjir jadi benteng terakhir
bagi sebuah kota 
yang terlahir untuk nyinyir 

mungkin, kau harus jujur sebagai penyihir
usah uarkan pekik bahagia
setelah kau lepas isyarat—dalam berlaksa lambang
serta kata-kata yang keras kepala

penyair:
itu hanya sejengkal jarak, tak kukuasai bunyi hati.
namun semua samun,
semua terberkati sebagai pencuri

ranting tua, beri aku daunmu
sebelum kutunggangi beburung takdirku
sebelum aku pergi, dan laut bangkit
menderaikan ombaknya
— melimbur pecah, mengunyah nyawa

ranting tua:
hei penyair, basahi dulu telapakmu.
musim panasmu sering memaksa cerminmu berdebu.
rangkul debu-debu itu, 
ajak mereka bertemu dengan percik air di ujung jarimu
lalu lepaskan,
biarkan cermin mengurai bayanganmu

penyair:
selalu aku risau memandang kemarau
wahai, ranting tua

ranting tua:
baiklah, remas daunku
bayangkan tiada dosa bila tanganmu basah oleh getah:
ia hanya darah kekasih,
yang lesatkan anak panah bercahaya
ke lampu sorga yang kian redup nyalanya

di pagi milik pohon-pohon, penyair dan ranting tua 
sama merindu makna. lalu puisi meninggi, 
menyusul matahari, meneteskan cahaya...

Surabaya, 2007-2009

Abimardha Kurniawan

Tuesday, March 18, 2014

Jiwa Mendikte

Jiwa lelah, raga tak mau menyerah
Jiwa sadar, raga tak mau mengalah
Jiwa paham, raga tak toleran
Jiwa dikte raga, raga sedang berkuasa
Jiwa senang kedamaian, raga senang keindahan
Jiwa ingin mimpi, raga .... pahlawan kesiangan.
Pada akhirnya raga menerima akibatnya!
Jiwa kemudian hanya bersimpuh bersahaja.

Terjaga..

Handil, 18 Maret 2014

Tuesday, April 17, 2012

SAJAK PALSU

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.
Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. 
di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. 
Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu. 
Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu. untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. 
Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. 
Sebagian menjadi guru, ilmuan dan seniman palsu. dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. 
Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu. 
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu, tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakat pun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. 
Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu. 
Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu ditengah seminar dan dialog-dialog palsu.
Menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.

KARYA AGUS R. SARJONO
BANDUNG 1998

Sajak Proklamasi 2

PROKLAMASI 2
Kami bangsa indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan Indonesia
untuk kedua kalinya!

Hal-hal yang mengenai
hak asasi manusia
utang piutang
dan lain-lain
yang tak habis-habisnya
INSYA-ALLAH
akan habis.
diselenggarakan
dengan cara saksama
dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, 25 Maret 1992
Atas nama Bangsa Indonesia
Boleh - Siapa saja

KARYA HAMID JABBAR
: