: Bait Bait Jiwa: Kenangan
Showing posts with label Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Kenangan. Show all posts

Sunday, March 30, 2014

Selamat Jalan Om Memet.. (Alfiansyah bin Ahmad Said)

Selasa, 25 Maret 2014. Pagi itu terasa biasa saja tak ada yang aneh dari biasanya, tapi ada yang sedikit mengganjal dipikiran. Om sedang sakit di Rumah sakit, pacar rencana pulang hari ini jadi buru-buru mempersiapkan bekal untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Rencana mau ikut pulang kerumah orang tuanya di Long Telenjau, Bulungan Kalimantan Utara, tapi nanti menyusul saja. (Sekarang kalimantan timur telah terbagi menjadi 2 bagian yaitu provinsi baru Kalimantan Utara). Banyak bekal yang disiapkan. Tak lupa kemarin mencari bibit singkong gajah, siapa tau berguna buat di kampung.
Singkong gajah karya Faperta Unmul siap dikirim. Kata orang disana belum ada singkong gajah, jadi apa salahnya saya titip buat tanam di kampung. Singkong gajah terkenal dengan umbinya yang besar dan rasanya yang empuk. Kata orang banjar samarinda "Hapuk". Satu pohon bisa menghasilkan 15-20 Kg lebih umbi singkong. Waw karya luar biasa anak-anak Universitas Mulawarman. Singkat cerita saat hendak pulang, cuaca sangat mendung. Hujan deras. Yah.. ini membuat perasaan makin sedikit susah untuk merelakan dia pulang.. Akhirnya mobil Travel datang menjemput. Makin terasa sesak campur gelisah meliat dia hilang dikejauhan. hm sabar, tenang.. sambil membisikkan sugesti untuk diri sendiri. "InsyaAllah dia bakal baik-baik saja kok". Amin.
Sesampai di Asrama Kutai 5 ku luangkan waktu untuk bercengkerama dengan teman sesaat. 
Tak lama kami bercengkerama telepon berbunyi. Ternyata mama yang sedang menelepon. "wan kamu dimana? wan on memet meninggal di ICU RS.AWS samarinda". Innalillahi wa inna ilaihi roojiunn.. sontak dada sesak serasa tak percaya. astaga kok bisa?? Masih merasa tak percaya, aku meminta pajeri untuk menemani ke RS. Sesampai di RS aku langsung menuju ruang ICU. Disana sudah ada para sepupu.
Yuda, Danu, dan Fahmi. Fahmi adalah anak tertua om Memet. Kubuka tirai yang menghalangi monitor rekam jantung. "Ya Allah om.. kok bisa.. cepat betul om di panggil yang maha kuasa..". Batin ku membadai. Linangan air mata tak dapat terbendung. Tak tahu apa yang harus ku lakukan. Padahal aku pun seorang Paramedis. Pikiran makin berkecamuk, aku tak dapat berbuat banyak untuk om ku sendiri. Dalam hatiku, kenapa aku tidak ada saat om ku sedang membutuhkan ku. Kenapa aku tak datang malam tadi. Kejadiannya sangat tiba-tiba, aku baru mendengar kali ini om memet sakit, sebelumnya ia tak pernah sakit. Sambil ku buka kain yang menutupi jenazah beliau, kucium pipi kanan dan kirinya. sambil terus menangis. "Ya Allah om., kok cepat betul om..." ku liat fahmi juga turut menangis di samping ku. Aku tau perasaan dia. Tak tertahan. Sambil keluar ruangan, aku masih ingat senyum nya sewaktu beliau masih hidup. Aku ingat pribadinya yang periang dan ulet. Ku tenangkan diri di parkiran. Sambil berbicara pada Danu dan Yuda. "Kasian Om memet..." batinku. Memang yang membuat batinku makin miris, om memet mempunyai masalah sebelum kepergiannya. Tak etis rasanya kalau ku berbicara disini, yang terpenting ingat lah selalu kebaikannya.
Om memet adalah sosok yang periang menurut ku, selain periang dia juga suka bercanda. sangat jarang menampakkan raut wajah yang masam. Dia orang yg ulet berkerja. Apapun akan dia kerjakan untuk mengisi hari-nya. Walaupun aku jarang bertemu dia dan kurang terlalu akrab tapi sosok dia di mataku cukup berkesan. Dia adalah salah satu Paman yang ku kagumi. Sosok periang nya tak dapat terlupakan. Aku berdoa semoga dia tenang di alam selanjutnya, semoga mendapat nikmat kubur, segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Semoga syurga kelak adalah tempat terakhir yang di tempati nya, amin. Iwan mohon maaf ya om kalau semasa hidup mungkin iwan ada berbuat salah atau berbuat yang tidak menyenangkan hati om. Mungkin hanya partisipasi pelayatan dan doa yang dapat aku sembahkan untuk om yang terakhir kalinya. Jujur om, iwan sangat menyesal tidak datang malam itu menjenguk om. Tidak dapat melihat om untuk terakhir kalinya. Tidak dapat meminta maaf. Tidak dapat memberi support atau semangat buat om. Sungguh menyesal. Semoga Syurga, semoga syurga semoga Syurga, Amin. semoga khusnul khotimah....................

Hari kemarin terasa sangat berat, selain nyonyah pulang kampung, kepergian om memet sangat membuat titk balik dalam jiwa. Semoga selalu mendapat pelajaran yang baik buat jiwa. Setelah selesai menguburkan, kami sekeluarga berkumpul sejenak dan pulang. Samarinda merupakan tempat kedua setelah rumahku yang selalu menorehkan sisa-sisa sejarah diri. Berangkat dari arama kutai 5 menuju Handil sungguh masih merasakan bekas berat. Saat di perjalanan kulihat matahari sore bersinar kuning orange. Terpantul dari kaca spion, sehingga seolah-olah menjadi dua matahari. Kuning orange besar yang terpantul dari dua kaca spion makin mengisyaratkan yang tak tahu apa arti dan maknanya. Sungguh indah ciptaanmu ya Rabb.... menetes air mata tanpa terasa... seolah-olah itu mengisyaratkan kepergian om memet, suatu lambaian hangat terkhir dari sang periang untuk yang di tinggalkan.......
Barakallah Fii kum.


untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan.
Untuk yang mencintainya. Untuk siapa saja yang cinta padanya.
semoga dapat menjadi kenang-kenangan.

OM MEMET
ALFIANSYAH BIN AHMAD SAID
LAHIR             : 24 APRIL 1963
MENINGGAL : 25 MARET 2014

Friday, May 11, 2012

KUNJUNGAN HABIBIE KE GARUDA

KUNJUNGAN HABIBIE KE GARUDA (Menangis gan Baca Ini!)

oleh Eko Sutrisno Alkautsar, 18 Januari 2012 pukul 13:33

Berikut ini postingan menarik yang bisa menginspirasi kita semua untuk selalu bekerja keras dengan hati untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik. Sekedar share. Oh ya artikel ini saya dapat dari milis tangandiatas, yang kemudian saya pos ke website untuk berbagi dan mengisnpirasi kita semua.

Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).


Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?


Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus "di escort" oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan..................

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:
“Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan.................“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan "how to build commercial aircraft" bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri..............N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu.........di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.......

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa..........

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.....................?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas.......................

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas:
Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.
Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.................

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir......kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.
***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya.................

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya umpamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik..........organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ...........................

“Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ...........ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu..................”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam......... seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................

“Dik, kalian tau.......2 minggu setelah ditinggalkan ibu.......suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu..... Ainun... Ainun ... Ainun .... saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini........mereka bilang: "Kita (para dokter) harus tolong Habibie".

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus.......
3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga............................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya "lebih cepat" dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu)

ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun...........dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia............

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat. Saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat, guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata....................
Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui............

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu.........semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif...................”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capten. Novianto Herupratomo

Friday, April 13, 2012

Tempat ku merasa kau ada

Bersuaralah walau sekata.
bergeraklah walau selangkah,
sapalah walau sekali, berteriaklah walau lirih, karna..
sekarang ku sendiri,
melihat bayang mu yang kian sirna...
Mungkinkah kau merasakan penyesalan ku..
yang kian hari kian mendalam..
Terpuruk oleh ego-ego masa silam..
Kini aku mengerti betapa banyak pengorbanan mu...
kini aku mengerti hidupmu.
Kadang aku cuma hanya ingin pastikan, apakah aku tetap kekasih yg paling kau cintai...
Merenung akan cerita-cerita masa lalu,
di saat aku sibuk akan aktivitas hidup...
Lewat sebatas jalanan, sirna kemudian datang kembali...
Duduk termenung menggoreskan kata-kata pena tentang dirimu...
Semakin terhayut oleh rasa penyesalan..
di sini aku sendiri, Di tempat yang aku sukai...
Kadang memandang ke kejauhan, Melihat sejauh mata memandang...
Kau jauh disana.. Sendu terasa,
Kelamnya masa silam,
semakin membawa rasa ingin menebus dosa-dosa yang pernah ku lakukan..
Kepadamu ya kepadamu..
Ingin memutar waktu tapi tak-kuasa.
Rindu akan hari-hari bersamamu, senyum mu..
Serasa kau sekarang di samping ku..di atas jok motor ini...
Ya aku selalu berhenti di tempat ini untuk menengkan diri...
Karna di tempat ini aku selalu merasa kau ada...
Perjalanan samarinda-handil membuatku lelah, jadi biarkan lah aku disini sejenak...
Walau malam larut aku mencoba datang kesini, kadang bersama seseorang teman..
Berbagi kisah cerita, mencurahkan segala keteringatan ku padamu...
Merasakan keberadaanmu...
Di jembatan dondang...


2009
Ridwan rizani
: