: Bait Bait Jiwa: Palestina
Showing posts with label Palestina. Show all posts
Showing posts with label Palestina. Show all posts

Tuesday, November 24, 2015

Dialog Raja Faisal Bin Abdul Aziz dan Presiden Perancis Charles de Gaulle tentang Palestina

Islamedia – Pada masa kepemimpinan Raja Faisal Bin Abdul Aziz, Arab Saudi merupakan negara yang sangat keras menentang penjajahan Zionis Israel atas bangsa Palestina. Dalam berbagai kesempatan di forum-forum Internasional, Raja Faisal secara Istiqomah memperjuangkan hak-hak warga Palestina.

Berikut ini salah satu dialog antara Raja Faisal Bin Abdul Aziz dengan Presiden Perancis Charles de Gaulle tentang Palestina. Dalam dialog ini Raja Faisal dengan sangat tegas menyatakan pembelaan terhadap Palestina dan gaya bahasanya yang sangat lugas membuat Presiden Charles kehilangan kata-kata (speechless).

Presiden Charles : “Kami dengar Tuan Raja ingin sekali menendang Israel ke laut, sementara keberadaan Israel ini sudah menjadi sebuah realita yang harus diterima, dan tidak seorangpun di dunia ini boleh menolak keberadaannya“.

Raja Faisal Menjawab : “Saya benar-benar heran dengan pernyatanmu itu tuan Presiden. Hitler pernah menduduki Paris, dan pendudukan itu sudah menjadi realita yang harus diterima. waktu itu seluruh Prancis sudah menyerah kalah dan bertekuk lutut. Tapi waktu itu anda tidak menyerah dan terus berjuang melawan apa yang tadi anda sebut sebagai sebuah realita yang harusnya anda terima begitu saja, sampai akhirnya anda sukses. Baik anda maupun bangsa anda tidak pernah mau menerima sebuah realita yang sudah terjadi. Makanya saya sangat heran ketika anda meminta saya untuk menyerah begitu saja menerima realita israel ini. Anda sudah pernah merasakan bagaimana bangsa lemah dijajah oleh bangsa kuat, wahai Tuan Presiden“.

Kagum dan kaget mendapatkan jawaban super telak tersebut, Presiden Charles de Gaulle menurunkan intonasi bicaranya: “tetapi wahai tuan raja, orang-orang yahudi mengatakan bahwa Palestina adalah tanah leluhur asli mereka, dan nenek moyang senior mereka dilahirkan disana“.

Raja Faisal menjawab, “Tuan Presiden, saya masih belum bisa memahami anda, bukankah anda orang yang taat beragama dan mengimani kitab suci anda. Tentunya anda senantiasa membaca kitab suci anda. Anda tentunya pernah membaca bahwa yahudi datang dari Mesir lalu mereka menyerang Palestina, membakar kota-kota, membunuh anak-anak dan wanita, lalu menaklukkan Palestina. Bagaimana mungkin anda bisa mengatakan bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka? Palestina adalah tanah asli suku Arab Kan’an, dan yahudi adalah penjajah. Itu yang tertulis dalam alkitab anda. Dan anda ingin mengembalikan penjajahan yan pernah diwujudkan Yahudi pada 4000 tahu yang lalu, tapi kenapa anda tidak ingin mengembalikan penjajahan Roma terhadap Prancis yang baru saja terjadi pada 3000 tahun yang lalu? Apakah kita harus menata ulang peta dunia demi kepentingan yahudi, tetapi kita tidak mau menata ulang peta dunia untuk kepentingan Roma? Anda juga tentunya belum lupa, kalau kami Muslim Arab pernah menduduki Selatan Prancis selama 200 tahun, sementara yahudi kuno menduduki Palestina cuma 70 tahun doang lalu kembali terusir kelaur Palestina“.

“tapi yahudi mengklaim bahwa nenek moyang mereka terlahir disana!“, balas Presiden Charles.

“Anda ini benar-benar aneh. sekarang di paris ada 150 kedutaan asing. Mayoritas Dubes-Dubes dan para Diplomat sempat melahirkan anak-anaknya di Paris. Kalau suatu saat anak-anak kelahiran Paris itu datang ke Prancis dan menuntut anda untuk meninggalkan negeri ini untuk diduduki oleh mereka yang pernah terlahir di Paris, maka akan seperti apa nasib Paris? Paris akan menjadi milik siapa?“.

Presiden Charles terdiam! Lalu dengan suara yang berat, Presiden Charles berkata, “ok, sekarang baru saya mengerti permasalahan Palestina yang sesungguhnya“. Selanjutnya Prancis menyetop senjata yang dipasok ke Israel yang saat itu dipasok oleh Prancis.

dikutip dari shasha.ps dan dialihbahasakan oleh Ustadz Syafruddin.
[islamedia/mh]

www.shasha.ps/news/172074.html
www.islamedia.id/jawaban-raja-arab-saudi-tentang-palestina-ini-membuat-presiden-perancis-speechless/

Wednesday, October 7, 2015

Relawan Sepuh Kita Ini, Pulang ke Allah Sambil Tersenyum

KEMARIN dini hari sebuah pesan masuk lewat telefon. Di Yogyakarta, subuh masih jauh. Di Gaza, bahkan belum tengah malam. Pesan itu pesan kematian. Ada ribuan kematian di Gaza. Semuanya istimewa.

Tapi untuk Sahabat Al-Aqsha, pesan ini lebih istimewa karena sangat pribadi. Salah satu pribadi yang pernah banyak membantu tunainya amanah-amanah Anda, Allah panggil pulang. Relawan sepuh kita bernama Ahmad Abu Syusya, usia 76 tahun, wafat kemarin lusa (10/12).

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.

Sungguh kita semua milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita semua kembali.

Kami memanggilnya Abu Wail, panggilan sayang yang biasa dipanggilkan anggota keluarganya.

Abu Wail saksi mata peristiwa An-Nakbah. Yaitu ketika tahun 1948 terjadi puncak pembantaian, teror oleh gerombolan-gerombolan Zionis Israel yang mengusir ribuan warga Palestina 1948.

Kala itu Abu Wail berusia 10 tahun, dipaksa serdadu Zionis ikut berjalan kaki mengungsi bersama orang tuanya, dari Palestina sampai ke Kuwait, 1.200 kilometer! Ya, jalan kaki.

Ya Allah… ya Allah…

Abu Wail ini pribadi yang sungguh istimewa. Umm Wail, demikian kami memanggil istri beliau, pernah bercerita kepada relawati Sahabat Al-Aqsha, “Abu Wail sangat sayang kepada saya. Lebih dari 50 tahun kami menikah, dia tak pernah marah…”

Pertama kali kami kenal Abu Wail, Musim Panas 2008, saat Sahabat Al-Aqsha berkunjung ke kamp pengungsi Khan Danun, di pinggir kota Damaskus, Suriah. Kakek belasan cucu itu penanggung jawab kesejahteraan ratusan keluarga pengungsi.

Ia pernah mengemban amanah yang sama di ‘Adn, Yaman. Sesudah pensiun dari profesinya sebagai paramedis.

Sejak perjumpaan di Damaskus hari itu, Abu Wail lah yang menangani bantuan yang disalurkan Sahabat Al-Aqsha ke kamp Khan Danun. Diantaranya santunan anak yatim pengungsi Palestina, daging qurban, dan bantuan untuk pusat kursus menjahit bagi kaum ibu.

Abu Wail juga hafal Al-Quran 30 juz.

“Ahlan… ahlan.. ahlan…,” pria yang fasih berbahasa Inggris ini menyambut kami seperti menyambut keluarga yang sudah puluhan tahun tak berjumpa. Padahal itu hari pertama kami berkenalan.

Rupanya itulah kekhasan Abu Wail, jumpa dengan siapa saja yang lama baru ketemu, dibungkukkan sedikit tubuhnya yang jangkung dan kekar itu. Lalu tangannya membuka lebar seperti kiper siap menangkap bola. Lalu memeluk kami.

Kalau ada orang yang punya hubungan paling dekat di rombongan itu, diangkatnya tubuh orang itu sambil dipeluk. Umur 70-an pun masih kuat mengangkat tubuh orang.

Senyumnya lebar. Senyumnya lebar… ya Allah, senyum itu…

Lihat, jenazahnya pun tersenyum lebar.

[Foto]
(Berikut ini terjemahan syair yang tertulis di poster di atas, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah itu…)

Katakanlah kepadaku

demi Rabb mu

apakah yang engkau lihat

dan membuatmu tersenyum?

Apakah kamu telah memulai

hari-hari penuh kenikmatan

wahai tuanku..

Apakah kamu telah melihat

Ja’far atau Bilal atau

kedua matamu telah lepas

dari dahaga dengan melihat

Nabi Muhammad

Shallallaahu ‘alayhi wa sallam

yang tercinta..

Mereka adalah Ahlul Quran…

Mereka adalah Ahlullah

dan orang-orang yang dipilih-Nya..

semoga Allah merahmatimu

wahai Abu Wail.

Katakanlah kepadaku

demi Rabb mu

apakah yang engkau lihat

dan membuatmu tersenyum…

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Abu Wail meninggalkan Damaskus di awal tahun 2012. Kegiatannya menolong warga Suriah yang dizhalimi rezim Basyar Assad, sudah sampai mengundang bahaya yang mengancam nyawanya.

Oleh para pemimpin Palestina di Suriah, Abu Wail termasuk yang diminta segera menyingkir. Ia boyong keluarganya, bukan ke Kuwait City, kota superkaya tempat ia dibesarkan jadi seorang paramedis profesional. Tapi ke Gaza yang sedang dikepung.

“Saya ingin Allah wafatkan saya di Tanah Ribath ini, Tanah Jihad,” katanya saat kami berkunjung Mei 2012.

Sehabis Perang Hijaratus Sijjil, Desember 2012, Sahabat Al-Aqsha singgah lagi di rumah mungilnya di kamp pengungsi Asy-Syathi’.

Abu Wail bercerita, hari-harinya dihabiskannya mengkaji Al-Quran. Beri’tikaf di masjid. Mengurus cucu. Menyemangati anak-anak dan cucu-cucunya untuk bertahan dan berjihad bersama para Mujahidin Gaza. Mencintai habis-habisan istrinya, Umm Wail, di sisa-sisa waktu yang Allah berikan. Sebelum kelak dipengantinkan lagi selama-lamanya di Firdausil A’la.

Aduh, Abu Wail…

Semakin banyak menulis ini… semakin berat rasanya kau tinggal kami duluan. Rindu senyummu. Sebaiknya cukup di sini saja.

Semoga Allah muluskan hisabmu. Tanpa hisab. Josss… langsung ke Syurganya, menjumpai para Nabi dan Rasul, para Shiddiqiin, para Syuhada, para Shalihin.

Allahumma aamiin.

[FOTO]

(Berikut ini terjemahan puisi di poster kedua, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah)

Inikah rembulan yang menghilang

tanpa menyisakan cahaya pada kegelapan negeri Yaman

Inikah mentari yang terbenam tidak menerangi bumi Syam,

karena kafan menghalangimu

Engkau meninggalkanku

dengan lesatan api yang menghanguskanku.

Aku menjadi orang asing tanpa negeri

Dalam diam,

sedih ini telah kehilangan pelipur mata,

mengungkap perih yang terkandung hati

Aku rindu senyummu yang cahayanya

memendari bagaimana cara merindui negeri

Aku rindu teguhmu yang tinggi,

telah menanamkan jejak perjuangan

sepanjang Damaskus hingga ‘Adn

Allah menjadi saksi atas janjimu,

Ayahanda, bahwa engkau mulia dan sabar

walau coba dan uji mendera

Semoga Allah alirkan bagimu Rahmat-Nya,

sebagaimana beburung bermain di dedaunan

di antara dedahan pohon.

=================================
[Sahabat Al-Aqsha.com]

https://www.islampos.com/relawan-sepuh-kita-ini-pulang-ke-allah-sambil-tersenyum-152081/

: