: Bait Bait Jiwa: Syair
Showing posts with label Syair. Show all posts
Showing posts with label Syair. Show all posts

Wednesday, October 7, 2015

Relawan Sepuh Kita Ini, Pulang ke Allah Sambil Tersenyum

KEMARIN dini hari sebuah pesan masuk lewat telefon. Di Yogyakarta, subuh masih jauh. Di Gaza, bahkan belum tengah malam. Pesan itu pesan kematian. Ada ribuan kematian di Gaza. Semuanya istimewa.

Tapi untuk Sahabat Al-Aqsha, pesan ini lebih istimewa karena sangat pribadi. Salah satu pribadi yang pernah banyak membantu tunainya amanah-amanah Anda, Allah panggil pulang. Relawan sepuh kita bernama Ahmad Abu Syusya, usia 76 tahun, wafat kemarin lusa (10/12).

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.

Sungguh kita semua milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita semua kembali.

Kami memanggilnya Abu Wail, panggilan sayang yang biasa dipanggilkan anggota keluarganya.

Abu Wail saksi mata peristiwa An-Nakbah. Yaitu ketika tahun 1948 terjadi puncak pembantaian, teror oleh gerombolan-gerombolan Zionis Israel yang mengusir ribuan warga Palestina 1948.

Kala itu Abu Wail berusia 10 tahun, dipaksa serdadu Zionis ikut berjalan kaki mengungsi bersama orang tuanya, dari Palestina sampai ke Kuwait, 1.200 kilometer! Ya, jalan kaki.

Ya Allah… ya Allah…

Abu Wail ini pribadi yang sungguh istimewa. Umm Wail, demikian kami memanggil istri beliau, pernah bercerita kepada relawati Sahabat Al-Aqsha, “Abu Wail sangat sayang kepada saya. Lebih dari 50 tahun kami menikah, dia tak pernah marah…”

Pertama kali kami kenal Abu Wail, Musim Panas 2008, saat Sahabat Al-Aqsha berkunjung ke kamp pengungsi Khan Danun, di pinggir kota Damaskus, Suriah. Kakek belasan cucu itu penanggung jawab kesejahteraan ratusan keluarga pengungsi.

Ia pernah mengemban amanah yang sama di ‘Adn, Yaman. Sesudah pensiun dari profesinya sebagai paramedis.

Sejak perjumpaan di Damaskus hari itu, Abu Wail lah yang menangani bantuan yang disalurkan Sahabat Al-Aqsha ke kamp Khan Danun. Diantaranya santunan anak yatim pengungsi Palestina, daging qurban, dan bantuan untuk pusat kursus menjahit bagi kaum ibu.

Abu Wail juga hafal Al-Quran 30 juz.

“Ahlan… ahlan.. ahlan…,” pria yang fasih berbahasa Inggris ini menyambut kami seperti menyambut keluarga yang sudah puluhan tahun tak berjumpa. Padahal itu hari pertama kami berkenalan.

Rupanya itulah kekhasan Abu Wail, jumpa dengan siapa saja yang lama baru ketemu, dibungkukkan sedikit tubuhnya yang jangkung dan kekar itu. Lalu tangannya membuka lebar seperti kiper siap menangkap bola. Lalu memeluk kami.

Kalau ada orang yang punya hubungan paling dekat di rombongan itu, diangkatnya tubuh orang itu sambil dipeluk. Umur 70-an pun masih kuat mengangkat tubuh orang.

Senyumnya lebar. Senyumnya lebar… ya Allah, senyum itu…

Lihat, jenazahnya pun tersenyum lebar.

[Foto]
(Berikut ini terjemahan syair yang tertulis di poster di atas, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah itu…)

Katakanlah kepadaku

demi Rabb mu

apakah yang engkau lihat

dan membuatmu tersenyum?

Apakah kamu telah memulai

hari-hari penuh kenikmatan

wahai tuanku..

Apakah kamu telah melihat

Ja’far atau Bilal atau

kedua matamu telah lepas

dari dahaga dengan melihat

Nabi Muhammad

Shallallaahu ‘alayhi wa sallam

yang tercinta..

Mereka adalah Ahlul Quran…

Mereka adalah Ahlullah

dan orang-orang yang dipilih-Nya..

semoga Allah merahmatimu

wahai Abu Wail.

Katakanlah kepadaku

demi Rabb mu

apakah yang engkau lihat

dan membuatmu tersenyum…

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Abu Wail meninggalkan Damaskus di awal tahun 2012. Kegiatannya menolong warga Suriah yang dizhalimi rezim Basyar Assad, sudah sampai mengundang bahaya yang mengancam nyawanya.

Oleh para pemimpin Palestina di Suriah, Abu Wail termasuk yang diminta segera menyingkir. Ia boyong keluarganya, bukan ke Kuwait City, kota superkaya tempat ia dibesarkan jadi seorang paramedis profesional. Tapi ke Gaza yang sedang dikepung.

“Saya ingin Allah wafatkan saya di Tanah Ribath ini, Tanah Jihad,” katanya saat kami berkunjung Mei 2012.

Sehabis Perang Hijaratus Sijjil, Desember 2012, Sahabat Al-Aqsha singgah lagi di rumah mungilnya di kamp pengungsi Asy-Syathi’.

Abu Wail bercerita, hari-harinya dihabiskannya mengkaji Al-Quran. Beri’tikaf di masjid. Mengurus cucu. Menyemangati anak-anak dan cucu-cucunya untuk bertahan dan berjihad bersama para Mujahidin Gaza. Mencintai habis-habisan istrinya, Umm Wail, di sisa-sisa waktu yang Allah berikan. Sebelum kelak dipengantinkan lagi selama-lamanya di Firdausil A’la.

Aduh, Abu Wail…

Semakin banyak menulis ini… semakin berat rasanya kau tinggal kami duluan. Rindu senyummu. Sebaiknya cukup di sini saja.

Semoga Allah muluskan hisabmu. Tanpa hisab. Josss… langsung ke Syurganya, menjumpai para Nabi dan Rasul, para Shiddiqiin, para Syuhada, para Shalihin.

Allahumma aamiin.

[FOTO]

(Berikut ini terjemahan puisi di poster kedua, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah)

Inikah rembulan yang menghilang

tanpa menyisakan cahaya pada kegelapan negeri Yaman

Inikah mentari yang terbenam tidak menerangi bumi Syam,

karena kafan menghalangimu

Engkau meninggalkanku

dengan lesatan api yang menghanguskanku.

Aku menjadi orang asing tanpa negeri

Dalam diam,

sedih ini telah kehilangan pelipur mata,

mengungkap perih yang terkandung hati

Aku rindu senyummu yang cahayanya

memendari bagaimana cara merindui negeri

Aku rindu teguhmu yang tinggi,

telah menanamkan jejak perjuangan

sepanjang Damaskus hingga ‘Adn

Allah menjadi saksi atas janjimu,

Ayahanda, bahwa engkau mulia dan sabar

walau coba dan uji mendera

Semoga Allah alirkan bagimu Rahmat-Nya,

sebagaimana beburung bermain di dedaunan

di antara dedahan pohon.

=================================
[Sahabat Al-Aqsha.com]

https://www.islampos.com/relawan-sepuh-kita-ini-pulang-ke-allah-sambil-tersenyum-152081/

Thursday, July 30, 2015

Syair "Suluk Ranting Tua" oleh Abimardha Kurniawan

Ada beberapa syair yang membekas dipikiran saya. Senang membacaya berulang-ulang disaat pikiran ini terasa buntu akan imajinasi. Terasa nyaman disaat malam gulita menyelimuti. Terasa terlalu indah dibaca bersama percakapan para jangkrik. Walau tempat tinggal tak lagi seasri desa yg damai dan menghijau.
Mari disimak...

----------------------------------------------------------------

Suluk Ranting Tua

di pagi milik pohon-pohon, matahari pelan menarik tali busur
panah-panah cahaya melesat, seakan likat, dingin tak seberapa pekat
hanya lewat. di bawahnya penyair merapat, di hadapannya
— rerunduk ranting tua, runduk yang termakan usia, 
bergeming, penjuru pagi kemuning, disepuh angin nan bening

penyair:
hai, kering jemari ranting tua,
yang tiada tumbuh bunga pada ujungnya, mengapa
mengapa menunda patah. padahal telah jatuh pula sejarah, buah demi buah.
padahal kawanan burung gereja
berulang hinggap dan terbang. mereka tiada kau sapa
hanya ringkih saja kau mengangguk dan bergoyang...

ranting tua:
penyair, aku hanya bertapa. aku tak bahagia
hanya dengan cakar burung gereja. bila kutatap senja
kutatap juga angin mampat semakin renta,
bagai pemain piano tak kenal nada, kubuang segala bicara
kuingin musim berhenti, atau mundur sekali lagi.

tapi aku belajar membaca pesona akan waktu yang berlari,
dan mengikat ingatan akan tanah tandus berhumus
dengan daun-daunku yang rela menjelma kata
— tentu dalam sajakmu jua

sekarang, dengarlah hei penyair, kembangkan dengar
tangkap bulu-bulu angin yang lepas.
rasai daunku meluncur menurut alur rambutmu.
aku tiada beruban, meski kulitku kusut, pokokku rentan,
belulangku serawan perawan,
tapi dengar dan lihatlah dulu
— rasakan dunia memencil di matamu

penyair:
ranting tua, aku birahi membawa namamu kembali.
dirimukah biji yang dulu kutanam
ataukah adam mengajarimu bersetia pada dunia
seraya melihat anak-anaknya berebut kavling tanah di selasar surga?

bagiku, tua hanya racun usia, dimana
masing-masing kita dipaksa mencari kaca
menemukan bebayang kita
yang malas bersegera dewasa

tiadakah kau merasakannya, hai ranting tua?

rating tua:
penyair, tiada aku percaya tanganmu penuh duka.
bahkan ketika deras kata-kata purba yang kau punya
bergegas ke muara, tak kulihat,
juga tak kurasa, beku salju menuju cair, 
meski niatmu, seluruh musim dingin segera cair dan berakhir 

penyair, kesepianmu patung perunggu.
kesunyianmu arang serapuh debu.
mulailah bernyanyi, peras anggur jiwamu.
tanam benih kesabaranmu,
sebelum hujan mengirim badai,
dan banjir jadi benteng terakhir
bagi sebuah kota 
yang terlahir untuk nyinyir 

mungkin, kau harus jujur sebagai penyihir
usah uarkan pekik bahagia
setelah kau lepas isyarat—dalam berlaksa lambang
serta kata-kata yang keras kepala

penyair:
itu hanya sejengkal jarak, tak kukuasai bunyi hati.
namun semua samun,
semua terberkati sebagai pencuri

ranting tua, beri aku daunmu
sebelum kutunggangi beburung takdirku
sebelum aku pergi, dan laut bangkit
menderaikan ombaknya
— melimbur pecah, mengunyah nyawa

ranting tua:
hei penyair, basahi dulu telapakmu.
musim panasmu sering memaksa cerminmu berdebu.
rangkul debu-debu itu, 
ajak mereka bertemu dengan percik air di ujung jarimu
lalu lepaskan,
biarkan cermin mengurai bayanganmu

penyair:
selalu aku risau memandang kemarau
wahai, ranting tua

ranting tua:
baiklah, remas daunku
bayangkan tiada dosa bila tanganmu basah oleh getah:
ia hanya darah kekasih,
yang lesatkan anak panah bercahaya
ke lampu sorga yang kian redup nyalanya

di pagi milik pohon-pohon, penyair dan ranting tua 
sama merindu makna. lalu puisi meninggi, 
menyusul matahari, meneteskan cahaya...

Surabaya, 2007-2009

Abimardha Kurniawan

: